Wonosobo Kabupaten Seribu Tarkam dan Kerinduan Mempunyai Tim Kebanggaan di Sepak Bola Indonesia

Wonosobo Kabupaten Seribu Tarkam dan Kerinduan Mempunyai Tim Kebanggaan di Sepak Bola Indonesia
Doc. Manggis Cup

     Siapa yang tidak mengenal Kabupaten Wonosobo, kabupaten yang memiliki letak bersebelahan dengan dataran tinggi Dieng juga memiliki makanan khas bernama mie ongklok. Selain terkenal dengan mie ongkloknya, Wonosobo terkenal dengan obyek wisata Dataran Tinggi dieng. Akan tetapi diluar dua ciri khas Wonosobo yang disebutkan tadi, Wonosobo mempunyai ciri khas lain yakni tarkam sepakbola atau sering disebut kompetisi sepakbola yang ada di daerah-daerah. Tarkam di Wonosobo sendiri bukanlah tarkam yang biasa-biasa saja. Modal besar dari pemilik klub yang mengikuti tarkam tersebut sangat menggoda bagi pemain yang berkecimpung didalamnya, tak heran banyak pemain kelas nasional yang ikut ambil bagian dalam tarkam di Wonosobo.

     Banyak dijumpai dalam open turnamen yang diselenggarakan sejak awal bisa ditebak klub mana yang keluar sebagai juara yakni klub yang mempunyai modal besar dalam mengikuti turnamen tersebut. Dengan modal besar yang dimiliki sangat mungkin mendatangkan pemain berkualitas atau bahkan pemain berlabel timnas. Terkadang hadiah dan modal sangat bertolak belakang, akan tetapi disini yang dicari bukanlah jumlah hadiah tetapi gengsi lah mendasari para pemasok modal menjadi gila hingga berani mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk modal klub yang dimilikinya.

    Deretan pemain nasional dan pemain asing pernah ambil bagian di tarkam yang diadakan di Wonosobo. Terlebih ketika sepakbola Indonesia harus dibekukan oleh FIFA karena konflik antara PSSI dan pemerintah membuat para pemain kelas nasional banting stir menjadi pemain tarkam demi tetap bisa menghidupi keluarganya. Ada beberapa pemain nasional dan asing yang pernah mengikuti tarkam di Wonosobo yakni Okto Maniani, Christian El-Loco Gonzales, Ronald Fagundez, Herman Dzumafo, Bruno Casmir, Jean Paul Boumsong, Muhammad Al-Hadji dan masih banyak lagi. Para pemain tadi bukanlah pemain yang biasa-biasa saja, selain mempunyai skill diatas rata-rata mereka juga mempunyai track record yang mentereng dipersepakbolaan Indonesia. Tak heran jika setiap turnamen diselenggarakan selalu menyedot animo masyarakat untuk datang langsung untuk menyaksikan para pemain nasional berlaga yang membela tim kampungnya.

     Berbicara honor yang diperoleh pemain nasional yang bermain di tarkaman tersebut bisa dibilang cukup mengagetkan. Bayaran untuk pemain lokal berada di kisaran Rp 1 juta hingga Rp2,5 juta. Sementara untuk pemain asing yang sudah terkenal berada di kisaran Rp 3-5 juta. Jumlah itu dihitung dari setiap match yang dijalani, bisa dibayangkan apabila dalam turnamen itu ada sekitar 6 pertandingan setiap pemain diakhir turnamen bisa mendapatkan honorer sekitar 15 juta itu untuk pemain lokal. Bayangkan berapa honor yang diterima pemain asing bisa mencapai 30 juta dalam satu kali turnamen dan jumlahnya hampir 2x kali honor yang diperoleh pemain lokal.

     Berbeda dengan pemain yang ikut ambil bagian di tarkam Wonosobo bisa dibilang sangat mentereng dan memiliki nama besar, sangat kontras dengan venue penyelenggaraan. Biasanya turnamen dilaksanakan di lapangan kampung yang ketika musim hujan bisa sangat becek dan sangat membahayakan bagi para pemain yang bermain. Meskipun hanya menggunakan lapangan kampung yang kesannya seadanya, tetapi lapangan yang digunakan memiliki keunikan tersendiri. Letak Wonosobo yang berada didataran tinggi membuat banyak tanah memiliki kontur miring, pengelola lapangan tidak kehilangan akal dengan adanya tanah yang miring. Mereka membuat tanah yang miring tersebut menjadi tribun penonton alami yang terbuat dari tanah. Dengan tribun yang hemat biaya itu sangat membantu penonton dalam menikmati jalannya pertandingan. Lapangan tarkam yang terkenal karena keunikan tribunnya di Wonosobo ialah Lapangan Tanggulasi. Lapangan yang sempat akan digunakan PSIW Wonosobo memang menjadi lapangan yang cukup mumpuni untuk menggelar pertandingan sepakbola di Wonosobo.

     Gairah sepakbola yang dirasakan masyarakat Wonosobo bisa dibilang hanya seumur jagung atau hanya kisaran lamanya sebuah turnamen. Jika turnamen berakhir itu juga sebagai tanda berakhirnya euforia sepakbola di Wonosobo. Sangat disayangkan dengan gairah sepakbola yang besar, Wonosobo belum memiliki tim yang berlaga dipentas sepakbola Indonesia. Sebenarnya Wonosobo memiliki tim sepakbola bernama PSIW Wonosobo, namun perkembangan PSIW Wonosobo hanya jalan ditempat. Asa PSIW Wonosobo sempat naik ketika akan mengikuti Piala Soeratin U-17 pada tahun 2017, tetapi PSIW Wonosobo mengurungkan niatnya ambil bagian di Piala Soeratin tanpa alasan yang jelas.

     Banyak faktor yang membuat persepakbolaan Wonosobo jalan ditempat, selain tidak memiliki infrastruktur yang memadai juga tidak adanya kompetisi resmi yang diadakan Askab Wonosobo. Carut marut politik semakin memperkeruh persepakbolaan di Wonosobo. Pemerintah Wonosobo yang tidak serius dalam mengurus sepak bola Wonosobo membuat banyak talenta asal Wonosobo yang tidak bisa besar ditanah kelahirannya sendiri. Masyarakat Wonosobo pencinta sepak bola sudah menyerukan perubahan di kancah persepakbolaan Wonosobo, selain meminta pembangunan stadion yang layak mereka juga meminta tranparansi didalam Askab Wonosobo agar sepak bola Wonosobo segera bangkit dan mampu setara dengan Kabupaten-kabupaten disekitar Wonosobo. Kerinduan masyarakat melihat PSIW Wonosobo berlaga disepak bola nasional sangat lah wajar, terlebih kampanye Support your local team saat ini sedang menjamur dilingkungan sepakbola Indonesia tak terkecuali di Wonosobo. Semoga sepakbola Wonosobo dan PSIW Wonosobo segera bangkit dan lekas mengejar perkembangan sepakbola seperti kabupaten lain yang memiliki tim kebanggaan yang berlaga dikancah persepakbolaan nasional.

Komentar