KEBAHAGIAAN 90 MENIT ITU BERNAMA SEPAKBOLA




KEBAHAGIAAN 90 MENIT ITU BERNAMA SEPAKBOLA

Setiap orang punya cara bahagia masing-masing, tak terkecuali bagi pandemen sepakbola di dunia ini. Ada yang menikmati kebahagian itu dengan cara menonton di layar kaca, ada pula mereka yang menikmatinya dengan datang ke stadion menikmatinya secara. Diluar itu bagaimanapun cara mereka menikmatinya yang jelas kebahagiaan tetaplah kebahagiaan yang selayaknya menemui penikamtnya.

Dari dua hal cara menikmati kebahagiaan sepakbola saya lebih suka menikmati dengan datang langsung ke stadion, ya meskipun hampir setiap minggunya saya juga menikmati sepakbola dari layar karena saya menonton tim eropa yang mau tidak mau bisanya hanya bisa menonton dari layar kaca. Akan tetapi bagi saya menonton sepakbola langsung di stadion memiliki nuansa yang tidak ada duanya, seperti bisa merasakan langsung atmosfer di dalam stadion itu sendiri. Terlebih jika pertandingan itu syarat gengsi atau gampangnya derby yang mempertemukan dua tim yang memiliki sejarah rivalitas yang cukup panjang dalam blantika liga yang tim itu ikuti

Berbicara soal derby mungkin sejauh ini saya baru menonton 2 kali pertandingan yaitu pertandingan PSS Sleman Vs Persis Solo pada tahun 2013 dan PSS Sleman Vs PSIM Yogyakarta pada tahun 2014. Saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya menyaksikan langsung derby saat itu. Disini saya akan menceritakan terlebih dahulu pengalaman saya ketika menonton derby mataram jilid 2 kenapa saya menyebut seperti itu karena pada dasarnya derby mataram yang sesungguhnya adalah PSIM Jogja Vs Persis Solo.

Sore itu seingat saya di stadion maguwoharjo 10 Juni 2013 beberapa hari menjelang bulan ramadhan saya tertarik untuk menonton pertandingan yang syarat gengsi antara PSS Sleman Vs Persis Solo. Perlu digaris bawahi saya disini datang menonton bukan karena mendukung salah satu tim yang bertanding tapi saat itu saya datang sebagai penikmat sepakbola itu sendiri. Balik lagi kecerita pertandingan itu, dari sebelum pertandingan memang suasana sudah panas mulai dari psywar di sosial media dan terror kepada bus pemain tim tamu yang dilakukan seperti derby-derby pada umumnya. Pertandinga kala itu mungkin tidak akan sepanas derby mataram PSIM Vs Persis apabila tidak ada gesekan suporter kedua tim pada musim sebelumnya. Yang membuat suatu pertandingan menjadi sangat seru dan menarik untuk disaksikan karena psywar di sosial media, saat itu saya memantau psywar dari twitter dan disitu yang membuat saya semakin tertarik untuk menyaksikan pertandingan itu. Dari awal memasuki stadion atmosfer panas pertandingan sore itu sudah terasa, penggeledahan yang biasanya dilakukan oleh panpel, saat pertandingan yang syarat gengsi itu penggeledahan dilakukan oleh pihak kepolisian. Didalam stadion pun terror-terror dilakukan kepada pemain tim tamu yang sedang malukakan pemanasan dilapangan. Saat menjelang kickoff drama sudah dimulai ketika kiper Persis Solo yang saat itu I Komang Putra mendadak terkapar hanya karena terkena lemparan roll paper. Kick off saat itu sempat tertunda beberapa saat karena menunggu perawatan I Komang Putra. Setelah beberapa saat akhirnya I Komang Putra memasuki lapangan dengan balutan perban yang melingkari kepalanya dan kick off pun dimulai. Sebenarnya pertandingan saat itu berjalan cukup menarik jual beli serangan dilakukan oleh kedua tim meskipun tim tuan rumah lebih mendominasi. Saat pertandingan memasuki pertengahan disitu lah atmosfer panas dimulai. Pelanggaran-pelanggaran keras dan keputusan-keputusan kontroversial wasit yang memmpin pertandingan sore itu. PSS Sleman yang saat itu memiliki skuad yang sangat mumpuni diantara ada Noh Alamsyah, Juan Revi , Ajisaka dan jebolan-jebolan arema lainnya.

Permainan Persis yang cenderung keras membuat para pemain PSS Sleman naik pitam. Gesekan antar pemain sulit dihindarkan ditambah kepemimpinan wasit yang kurang tegas membuat pertandingan itu semakin panas. Pertandingan bertambah menarik dan panas setelah Monieaga mencetak gol dan membuat tim rumah unggul 1-0. Saat itu atmosfer merembet sampai ke tribun penonton, lemparan-lemparan dibotol ditujukan suporter tuan rumah ke tim tamu. Tim tamu pun tidak tinggal diam, alih-alih mental mereka menjadi down justru malah membuat para pemain tim tamu memancing kemarahan suporter dengan cara meminum isi dalam botol air mineral yang dilemparkan suporter tim tuan rumah, tidak berhenti disitu. Tidak berhenti sampai disitu salah seorang pemain Persis Solo Sopyan Morhan saat itu mencuri-curi mengacungkan jari tengah ke arah suporter tuan rumah yang berada di tribun timur sembari melakukan lemparan kedalam, yang semakin membuat kemarahan suporter tuan rumah. Drama terus terjadi sampai akhirnya wasit meniup peluit akhir. Tetapi saat wasit meniup peluit akhir itu bukan berarti drama selesai, seketika wasit menjadi bulan-bulanan pemain Persis yang tidak terima dengan keputusan-keputusan dari wasit yang memimpin pertandingan itu sampai akhirnya wasit yang menjadi bulan-bulanan pemain Persis berhasil dievakuasi pihak kepolisian. Pertandingan yang berkesudahan 1-0 untuk kemenangan tuan rumah menyisakan banyak cerita bagi penonton yang datang ke stadion maguwoharjo sore itu. Pada akhirnya perseteruan kedua tim yang memanaskan blantika sepakbola indonesia berakhir dengan ikrar damai pada Musim Liga 2 tahun 2017 ini.



MASIH BERSAMBUNG.....

Komentar